RIAU - Kampung Bugis di Provinsi Kepulauan Riau bukan sekadar nama kawasan permukiman pesisir. Wilayah ini menyimpan sejarah panjang tentang persekutuan politik dan militer antara Kesultanan Melayu dengan para perantau Bugis asal Sulawesi Selatan sejak awal abad ke-18.
Jejak sejarah tersebut masih bertahan hingga kini, bahkan tercatat secara administratif sebagai Kelurahan Kampung Bugis di Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang.
Sejarah Kampung Bugis bermula dari konflik perebutan tahta Kesultanan Johor-Riau sekitar tahun 1718.
Saat itu, Raja Sulaiman yang merupakan putra Sultan Abdul Jalil Riayat Syah terlibat perseteruan dengan Raja Kecil dari Siak. Dalam kondisi genting tersebut, pihak Johor-Riau meminta bantuan militer dari para ksatria Bugis asal Sulawesi Selatan.
Lima bersaudara Bugis yang dikenal sebagai Opu Daeng Bersaudara, yakni Daeng Parani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, Daeng Kemasi, dan Daeng Menambon, datang membantu Raja Sulaiman merebut kembali tahta Kesultanan Johor-Riau.
Berkat keberhasilan tersebut, Sultan Melayu kemudian memberikan sebidang lahan kepada masyarakat Bugis sebagai bentuk penghargaan dan balas jasa. Kawasan itu kemudian berkembang menjadi Kampung Bugis yang dikenal hingga sekarang.
Hubungan Melayu dan Bugis semakin erat melalui jalur pernikahan politik serta integrasi pemerintahan. Dalam struktur kerajaan, keturunan Bugis diberi kepercayaan menduduki jabatan strategis sebagai Yang Dipertuan Muda (YDM) yang bertugas mengatur pemerintahan dan pertahanan militer, sementara Sultan Melayu tetap menjadi kepala negara.
Pada masa lampau, Kampung Bugis juga memiliki fungsi penting sebagai pusat pertahanan laut.
Kawasan Pulau Bayan menjadi basis militer maritim di bawah komando tokoh besar Bugis seperti Raja Haji Fisabilillah.
Dari wilayah inilah laskar Bugis melakukan pertahanan terhadap ancaman asing, termasuk menghadapi kekuatan kongsi dagang Belanda atau VOC yang kala itu berusaha menguasai jalur perdagangan di wilayah Melayu.
Eksistensi Kampung Bugis kini tidak hanya berada di satu lokasi. Nama kawasan tersebut tersebar di sejumlah wilayah strategis di Kepri, seperti di Tanjungpinang, kawasan Tanjunguban di Kabupaten Bintan, hingga wilayah Daik Lingga dan Belakangpadang di Batam.
Meski identik dengan etnis Bugis, Kampung Bugis saat ini menjadi simbol keberagaman masyarakat pesisir di Kepri. Warga keturunan Bugis hidup berdampingan dengan masyarakat Melayu, Tionghoa, Banjar, hingga Minang dalam suasana harmonis.
Mayoritas masyarakat setempat masih menggantungkan hidup sebagai nelayan tradisional. Namun perkembangan zaman membuat sebagian warga mulai bergerak di sektor perdagangan, pariwisata, hingga transportasi laut sebagai pengemudi pompong.
Perpaduan adat Melayu dan budaya Bugis juga melahirkan identitas budaya khas Kepulauan Riau, mulai dari arsitektur rumah panggung di atas air hingga corak pakaian adat yang masih dipertahankan sampai sekarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan