Iko Kabupaten Kuantan Singingi Paju Jalur (Ramadhan Kurniawan putra)
RIAU - Pacu Jalur merupakan tradisi balap perahu dayung khas masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, yang telah menjadi salah satu ikon budaya Indonesia.
Digelar di Sungai Kuantan, perlombaan ini tidak hanya menyajikan adu kecepatan, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong, sejarah panjang, serta kekayaan budaya masyarakat Melayu.
Tradisi ini menggunakan perahu kayu panjang yang disebut Jalur, dibuat dari satu batang pohon utuh tanpa sambungan. Panjang perahu dapat mencapai 25 hingga 40 meter dan mampu membawa sekitar 40 hingga 60 orang pendayung dalam satu tim.
Sejarah Pacu Jalur telah dimulai sejak abad ke-17. Pada awalnya, Jalur berfungsi sebagai alat transportasi utama masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Kuantan untuk mengangkut hasil bumi seperti pisang, tebu, dan berbagai komoditas lainnya.
Memasuki awal tahun 1900-an, masyarakat mulai menggelar perlombaan Jalur untuk memeriahkan perayaan hari-hari besar Islam.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda sekitar tahun 1905, perlombaan ini sempat dijadikan bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina setiap 31 Agustus.
Setelah Indonesia merdeka, Pacu Jalur kembali menjadi milik masyarakat dan rutin diselenggarakan setiap bulan Agustus untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.
Hingga kini, tradisi tersebut terus dilestarikan dan menjadi agenda budaya tahunan yang selalu dinantikan.
Pembuatan sebuah Jalur juga menjadi simbol kuat nilai kebersamaan. Seluruh masyarakat desa bergotong royong mulai dari mencari kayu di hutan melalui prosesi Maelo Jalur, menjalankan ritual adat, hingga membentuk perahu siap pakai.
Kayu yang digunakan umumnya berasal dari jenis banio, meranti, atau kempas yang memiliki daya tahan tinggi. Karena dibuat dari satu batang kayu utuh, proses pembuatannya membutuhkan keterampilan dan kerja sama seluruh warga.
Saat festival berlangsung di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, ribuan hingga puluhan ribu penonton memadati tepian Sungai Kuantan untuk menyaksikan perlombaan.
Suasana menjadi semakin meriah ketika puluhan pendayung mengayuh secara serempak demi membawa Jalur mereka melaju paling cepat menuju garis finis.
Keunikan Pacu Jalur juga terlihat dari keberadaan Tukang Tari, yaitu anak yang berdiri dan menari di ujung perahu untuk menjaga keseimbangan sekaligus membakar semangat para pendayung. Sosok ini bahkan sempat menjadi perhatian dunia maya setelah viral dengan istilah "aura farming". Selain itu, terdapat Tukang Onjai yang bertugas memberikan aba-aba agar irama dayung tetap kompak.
Atas nilai sejarah, budaya, dan tradisi yang terus dijaga turun-temurun, Pacu Jalur telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia serta masuk dalam agenda pariwisata nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan