Minggu, 19 JULI 2026 • 15:09 WIB

Kerajaan Kampar Kiri di Riau, Jejak Kerajaan Islam yang Masih Menyimpan Istana dan Benda Pusaka

Author

Kerajaan Gunung Sahilan (Ramadhan Kurniawan putra)

RIAU - Kerajaan Kampar Kiri atau lebih dikenal sebagai Kerajaan Gunung Sahilan merupakan salah satu kerajaan Islam yang pernah berkembang di wilayah pesisir timur Pulau Sumatra. 

Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1700 dengan pusat pemerintahan di Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Pendiri kerajaan adalah Tengku Yang Dipertuan Bujang Sati atau dikenal pula dengan gelar Sutan Pangubayang, putra dari Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau. 

Keberadaan kerajaan ini menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam, pemerintahan adat, serta perdagangan di kawasan Kampar.

Salah satu keunikan Kerajaan Kampar Kiri terletak pada sistem pemerintahannya yang membagi kekuasaan menjadi dua unsur utama, yakni Raja Adat yang mengurus pemerintahan dan urusan kenegaraan, serta Raja Ibadat yang memegang kewenangan dalam bidang keagamaan. 

Model pemerintahan tersebut menjadi ciri khas yang membedakan Kerajaan Kampar Kiri dengan sejumlah kerajaan Melayu lainnya.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Kampar Kiri

Kerajaan Kampar Kiri didirikan pada awal abad ke-18 setelah Tengku Yang Dipertuan Bujang Sati memperoleh mandat untuk memimpin wilayah Gunung Sahilan.

Sejak berdiri, kerajaan berkembang sebagai pusat pemerintahan, penyebaran Islam, serta perdagangan yang memanfaatkan jalur Sungai Kampar sebagai urat nadi transportasi dan ekonomi masyarakat.

Lokasi strategis di kawasan sungai menjadikan Kerajaan Kampar Kiri memiliki hubungan dagang dengan berbagai daerah di Sumatra hingga kawasan Selat Malaka.

Silsilah Raja Kerajaan Kampar Kiri

Berikut daftar para pemimpin Kerajaan Kampar Kiri yang pernah memerintah di Istana Darul Salam, Gunung Sahilan:

• Tengku Yang Dipertuan Bujang Sati (1700–1730), pendiri dan raja pertama.

• Tengku Yang Dipertuan Nan Elok (1730–1760).

• Tengku Yang Dipertuan Muda I (1760–1800).

• Tengku Yang Dipertuan Hitam (1800–1840).

• Tengku Yang Dipertuan Abdul Jalil Khalifatullah (1840–1870).

• Tengku Yang Dipertuan Besar Daulat (1870–1905).

• Tengku Yang Dipertuan Muda Abdurrahman (1905–1930).

• Tengku Yang Dipertuan Besar Sulung (1930–1945), memerintah bersama Raja Ibadat Tengku Haji Abdullah Yang Dipertuan Sati hingga masa bergabungnya kerajaan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

• Tengku H. Gazali, yang dilantik sebagai Putra Mahkota sekitar 1939–1941, namun tidak sempat naik takhta penuh akibat perubahan politik menjelang kemerdekaan Indonesia.

• Tengku Muhammad Nizar, dinobatkan pada 2017 sebagai pewaris takhta dan pemangku adat untuk melestarikan tradisi Kerajaan Kampar Kiri.

Masa Kejayaan Kerajaan Kampar Kiri

Pada masa kejayaannya, Kerajaan Kampar Kiri berkembang sebagai pusat perdagangan penting di wilayah Riau.

Komoditas utama yang diperdagangkan meliputi lada, emas, serta berbagai hasil hutan. Jalur Sungai Kampar menjadi penghubung antara pedagang dari pedalaman Minangkabau dengan para pedagang dari kawasan Selat Malaka.

Hubungan sejarah Kampar juga memiliki kaitan erat dengan Kesultanan Malaka. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, Sultan Mahmud Syah disebut membawa sebagian pasukan dan pengikutnya menuju wilayah Kampar sebagai tempat perlindungan.

Warisan Sejarah Kerajaan Kampar Kiri

Walaupun pemerintahan kerajaan telah berakhir, berbagai peninggalan sejarah dan budaya masih dapat ditemukan hingga sekarang.

Salah satunya adalah Istana Darul Salam atau Istana Gunung Sahilan, yang kini berdiri sebagai replika istana kerajaan dan menjadi salah satu cagar budaya di Kabupaten Kampar.

Kerajaan juga meninggalkan sejumlah benda pusaka seperti Meriam Bujang Kalebong, meriam tembaga kuno, tombak trisula, serta cap mohor kerajaan yang menggunakan aksara Arab-Melayu.

Selain peninggalan fisik, warisan budaya juga tetap hidup melalui sistem adat Kerapatan Khalifah Nan Berempat, yaitu lembaga musyawarah adat yang dipimpin Datuk Besar Khalifah Kampar Kiri bersama para ninik mamak. 

Struktur adat tersebut masih dihormati dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ocu di Kampar hingga saat ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU