K.H. Imam Bulqin (Ramadhan Kurniawan putra)
RIAU - Perjuangan rakyat Bengkalis dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia menyisakan sejarah heroik yang terus dikenang hingga kini.
Salah satu peristiwa paling bersejarah adalah Perang Sosoh atau Perang Pedekik yang terjadi pada 9 Januari 1949, saat masyarakat bersama Tentara Republik Indonesia (TRI) dan Laskar Sabilillah mempertahankan wilayah Bengkalis dari agresi militer Belanda.
Baca juga: Jejak Heroik Pahlawan Lokal: Sejarah Perlawanan Rakyat Rokan Hulu
Perlawanan tersebut menjadi simbol keberanian masyarakat pesisir timur Riau yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selain Perang Sosoh, perjuangan juga tidak lepas dari peran ulama kharismatik K.H. Imam Bulqin yang menjadi tokoh penting dalam strategi gerilya melawan pasukan kolonial.
Perang Sosoh atau Perang Pedekik berlangsung di Desa Pedekik, Kecamatan Bengkalis, pada 9 Januari 1949.
Saat itu, tentara Belanda berupaya menguasai wilayah pedalaman Bengkalis sebagai bagian dari agresi militer mereka.
Menghadapi kekuatan persenjataan yang jauh lebih lengkap, pasukan TRI bersama ribuan warga dan Laskar Sabilillah memilih melakukan strategi "sosoh", yakni pertempuran jarak dekat dengan berhadapan langsung menggunakan senjata tradisional seperti kelewang, tombak, dan bambu runcing.
Baca juga: Mengenang Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Riau
Semangat juang para pejuang membuat pasukan Belanda kewalahan. Serangan balasan yang dilakukan secara berani berhasil memukul mundur tentara kolonial hingga kembali ke Kota Bengkalis.
Namun kemenangan tersebut harus dibayar mahal. Tujuh pejuang gugur di medan perang, di antaranya Sudarman, Diran, Sogimin, Mesran, serta pejuang lainnya yang kini dikenang sebagai pahlawan daerah.
Sebagai penghormatan atas jasa mereka, pemerintah membangun Tugu Perang Pedekik di lokasi pertempuran sebagai pengingat perjuangan rakyat Bengkalis mempertahankan kemerdekaan.
Di balik perjuangan rakyat Bengkalis, terdapat sosok ulama kharismatik K.H. Imam Bulqin yang berasal dari Pasiran, Bantan Tua. Beliau dikenal sebagai ulama sekaligus pejuang yang berperan besar dalam mempertahankan wilayah Bengkalis dari penjajah Belanda.
Selain mengajarkan ilmu agama, K.H. Imam Bulqin juga melatih masyarakat dalam ilmu bela diri dan membangun semangat perjuangan. Ia menjadi tempat berdiskusi para pejuang, termasuk Letnan II Soebrantas, dalam menyusun strategi perang gerilya menghadapi agresi Belanda.
Tidak hanya memberikan arahan, K.H. Imam Bulqin juga turun langsung ke garis depan bersama Laskar Sabilillah untuk memimpin perlawanan rakyat.
Atas jasa dan pengabdiannya, beliau kemudian ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Daerah Riau.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan