RIAU - Kota Bagansiapiapi kembali menjadi lautan manusia saat ribuan wisatawan dan warga keturunan Tionghoa berkumpul untuk merayakan Festival Bakar Tongkang 2026.
Puncak ritual yang jatuh pada tanggal 29 Juni hingga 1 Juli 2026 ini tetap menjadi magnet wisata budaya terbesar di Provinsi Riau, sekaligus simbol keteguhan hati para leluhur.
Dikenal dengan nama lokal Go Ge Cap Lak (tanggal 16 bulan ke-5 penanggalan Imlek), ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada Dewa Kie Hu Ong Ya dan Dewa Tai Sun. Tradisi ini bermula pada tahun 1826, ketika 18 orang imigran Tionghoa pertama tiba di Bagansiapiapi setelah dipandu oleh cahaya kunang-kunang di tengah kegelapan laut.
Sebagai tanda tekad untuk tidak kembali ke tanah air dan menetap selamanya di tanah harapan yang baru, mereka membakar kapal (tongkang) kayu yang mereka tumpangi. Semangat "memutus jalan pulang" itulah yang hingga kini dirayakan sebagai bentuk syukur dan tekad membangun masa depan.
Replika tongkang raksasa yang dibuat selama berbulan-bulan dengan hiasan ornamen naga dan warna merah yang dominan, diarak dari Kelenteng Ing Hok Kiong—kelenteng tertua di kota ini—menuju lokasi pembakaran.
Sepanjang jalan, aroma dupa menyerbak dan dentuman petasan bersahutan dengan atraksi barongsai serta musik tradisional. Setibanya di lokasi, ribuan tumpukan kertas sembahyang (Kim Zua) dimasukkan ke dalam kapal sebelum akhirnya api menyulut seluruh badan tongkang.
Satu momen yang paling dinanti oleh para pengunjung adalah saat tiang kapal jatuh. Berdasarkan kepercayaan turun-temurun:
Jika tiang jatuh ke arah laut, diyakini rezeki tahun ini akan lebih banyak datang dari sektor kelautan/perikanan.
Jika tiang jatuh ke arah darat, rezeki diperkirakan akan lebih melimpah dari sektor pertanian atau perdagangan di daratan.
Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir mencatat peningkatan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara pada gelaran tahun 2026 ini. Hotel dan penginapan di seluruh sudut kota dilaporkan penuh sejak seminggu sebelum acara dimulai.
"Bakar Tongkang bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan identitas budaya yang mempererat persaudaraan antarwarga dan menggerakkan ekonomi kreatif lokal secara luar biasa," ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Dengan statusnya sebagai salah satu agenda nasional dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), Festival Bakar Tongkang terus membuktikan bahwa tradisi lama tetap memiliki tempat di hati generasi modern, sekaligus menjaga
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan