RIAU - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru melakukan langkah baru dalam mengatasi persoalan sampah dengan menggandeng Polda Riau untuk menghadirkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WTE).
Kerja sama ini difokuskan pada pengolahan sampah di TPA Muara Fajar. Melalui teknologi tersebut, tumpukan sampah yang selama ini menjadi masalah lingkungan akan dimanfaatkan untuk menghasilkan energi terbarukan dari gas metana yang terbentuk di tempat pembuangan akhir.
Wali Kota Agung Nugroho mengatakan, inovasi ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mencari solusi jangka panjang terhadap persoalan sampah perkotaan. Menurutnya, teknologi WTE dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Ia menjelaskan bahwa sampah tidak lagi dipandang hanya sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan teknologi yang tepat.
“Melalui teknologi Waste to Energy, sampah dapat diolah menjadi energi yang bermanfaat bagi masyarakat. Ini sekaligus mengubah paradigma bahwa sampah bukan sekadar masalah, tetapi juga potensi,” ujar Agung Nugroho saat meninjau TPA Muara Fajar bersama jajaran Polda Riau, Jumat (6/3/2026).
Secara teknis, proyek ini akan memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah. Gas tersebut kemudian ditangkap dan diolah menggunakan pembangkit listrik tenaga biogas untuk menghasilkan energi listrik.
Berdasarkan kajian teknis yang telah dilakukan, fasilitas tersebut diperkirakan mampu menghasilkan listrik hingga sekitar 3 megawatt (MW). Sementara produksi energi bersih yang dihasilkan diproyeksikan mencapai sekitar 20,5 juta kilowatt hour (kWh) setiap tahun.
Menariknya, proyek ini dirancang tanpa menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pemerintah kota menerapkan skema kerja sama business-to-business (B2B) dengan melibatkan investor swasta.
Dengan skema tersebut, pengelolaan sampah tetap dapat berjalan tanpa membebani anggaran daerah, termasuk menghindari biaya tipping fee yang selama ini dikenal cukup besar dalam sistem pengolahan sampah modern.
Agung juga menyampaikan apresiasi kepada Herry Heryawan selaku Kapolda Riau yang dinilai berperan dalam memfasilitasi pertemuan berbagai pihak sehingga proyek ini dapat terealisasi.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, investor, serta kalangan akademisi menjadi faktor penting dalam mendorong keberhasilan program pengelolaan sampah berkelanjutan.
Ke depan, kehadiran teknologi WTE diharapkan mampu mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Pemerintah Kota Pekanbaru juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam pengelolaan sampah, terutama dengan melakukan pemilahan sejak dari rumah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan