Selasa, 09 JUNI 2026 • 20:20 WIB

Jejak Azimat Melayu Riau Tersimpan di Museum Sang Nila Utama, Warisan Spiritual dan Tradisi Tulis Masa Lampau

Author

Jejak Azimat Melayu Riau Tersimpan di Museum Sang Nila Utama, Warisan Spiritual dan Tradisi Tulis Masa Lampau (ramadhan kurniawan putra)

RIAU - Di balik lembaran-lembaran kusam yang tersimpan rapi di ruangan UPT Museum Sang Nila Utama Riau, tersimpan jejak panjang kebudayaan Melayu yang diwariskan lintas generasi. Manuskrip-manuskrip kuno itu bukan sekadar tulisan tua, melainkan menyimpan nilai spiritual, petuah kehidupan, hingga perlindungan diri yang dahulu diyakini masyarakat melalui azimat.

Keberadaan azimat peninggalan masa lampau di Bumi Lancang Kuning kini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian tradisi tulis Melayu. Museum Sang Nila Utama terus melakukan konservasi terhadap berbagai naskah kuno agar tidak hilang dimakan usia dan perkembangan zaman.

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan Riau, Achmad Al Azhari, mengatakan azimat tersebut berasal dari berbagai daerah di Riau. Namun, proses konservasi yang saat ini diprioritaskan berasal dari wilayah Kampar dengan tulisan menggunakan aksara Arab.

“Azimat ini merupakan bagian koleksi dari peninggalan naskah kuno yang terawat di Museum Sang Nila Utama. Sebenarnya ada dari berbagai daerah, tapi untuk saat ini yang kami lakukan konservasi berasal dari daerah Kampar,” ujarnya saat memperlihatkan manuskrip-manuskrip kuno, Selasa (8/6/2026).

Meski telah berusia ratusan tahun, sebagian naskah masih tersimpan dalam kondisi cukup baik. Namun, perubahan warna pada kertas serta bagian tepi yang mulai rapuh menjadi bukti perjalanan panjang benda budaya tersebut sejak pertama kali dituliskan oleh pemiliknya di masa silam.

Pria yang akrab disapa Babe itu menjelaskan, sejumlah azimat diperkirakan berasal dari abad ke-18 Masehi. Namun, hingga kini tidak terdapat catatan pasti mengenai usia masing-masing azimat karena sifatnya yang personal dan diwariskan secara turun-temurun dalam lingkungan keluarga.

“Untuk detail usia tahunnya bervariasi. Kita melihat ini sudah ada sejak abad ke-18 Masehi. Namun, tidak ada catatan pasti mengenai usia sebuah azimat di Riau karena benda-benda semacam itu bersifat pribadi dan diwariskan secara turun-temurun,” jelasnya.

Menurutnya, azimat pada masa lalu dipercaya memiliki nilai magis dalam kehidupan masyarakat Melayu. Selain dianggap sebagai pelindung diri, isi tulisan di dalamnya juga diyakini mengandung tuntunan hidup yang diwariskan penulis kepada pemilik azimat.

“Isi yang terkandung dan makna dari azimat ini, konon menurut orang-orang dulu bacaan tersebut dipercayai sebagai pelindung diri bagi pemilik serta tunjuk ajar dari penulisnya. Tulisan di setiap azimat bermacam-macam, ada yang menggunakan aksara Arab, Arab-Melayu, dan Jawi,” terangnya.

Keunikan manuskrip azimat tidak hanya terlihat dari susunan tulisan, tetapi juga bentuk visual yang menyertainya. Beberapa naskah dilengkapi simbol hingga gambar tertentu yang diyakini memiliki makna khusus sesuai kebutuhan pemiliknya pada masa lampau.

Selain itu, terdapat pula manuskrip yang dihiasi pola geometris dan ilustrasi sederhana dengan tinta yang mulai memudar. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Melayu dahulu memadukan unsur spiritual, seni, dan tradisi tulis dalam satu karya yang bersifat personal.

“Menariknya, azimat ini bukan hanya tulisan saja, tetapi ada juga berupa gambar manuskrip kuno yang memiliki karakteristik tertentu. Jenis alas tulisnya pun beragam, mulai dari kertas Eropa hingga daluang,” ungkapnya.

Penggunaan bahan tulis yang beragam menjadi penanda adanya interaksi budaya dan perdagangan pada masa lalu. Kertas Eropa menunjukkan hubungan masyarakat Melayu dengan jalur perdagangan internasional, sementara daluang memperlihatkan pemanfaatan bahan lokal dalam tradisi penulisan naskah.

Kini, bagi para peneliti, azimat tidak lagi dipandang semata sebagai benda mistis seperti anggapan sebagian masyarakat modern. Manuskrip tersebut lebih dipahami sebagai warisan budaya yang mencerminkan pola pikir, kepercayaan, dan kehidupan sosial masyarakat Melayu tempo dulu.

“Tapi pada intinya, azimat kini telah menjadi koleksi peninggalan budaya saja. Kita menilai Riau ini cukup banyak memiliki tradisi tulis. Naskah-naskah yang kita dapat ini termasuk bagian dari hasil kebudayaan Melayu,” kata Babe.

Museum Sang Nila Utama Riau terus mendorong upaya konservasi agar generasi muda dapat mengenal kekayaan manuskrip Melayu yang pernah berkembang di Riau. Langkah tersebut dinilai penting sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan daerah sekaligus menjaga identitas sejarah masyarakat Melayu.

“Jadi kalau dalam pemajuan kebudayaan, saya rasa ini merupakan bagian dari pemajuan tradisi tulis manuskrip. Memang banyak muatan yang berkaitan dengan budaya masa lampau,” tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU