Ketua KAMMI Duri (Ramadhan Kurniawan putra)
RIAU - Tidak pernah kita bayangkan ruang pendidikan tinggi, yang seharusnya menjadi benteng intelektual dan nurani, justru dirundung tragedi kekerasan. Peristiwa pembacokan yang menimpa seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) pada Kamis pagi (26/2/2026) merupakan luka mendalam bagi dunia akademik dan publik Indonesia.
Sekitar pukul 08.30 WIB di Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, seorang mahasiswi berinisial F (23) dibacok oleh rekannya sendiri, R (21), saat menunggu giliran sidang akademik. Serangan itu dilakukan dengan kapak yang telah dipersiapkan sebelumnya, hingga mengakibatkan luka serius di kepala dan beberapa bagian tubuh. Korban kini menjalani perawatan intensif dan kondisinya dilaporkan stabil pascaoperasi. Sementara pelaku telah diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka,Sabtu (28/02/2026).
Kasus ini bukan sekadar insiden kriminal biasa. Fakta menunjukkan bahwa pelaku telah merencanakan aksinya sejak November 2025. Membawa senjata tajam ke lingkungan kampus, dan melakukan tindakan brutal tanpa peringatan.
Ketidakmampuan kita mencegahnya menyingkap banyak persoalan struktural yang selama ini terabaikan, keamanan kampus, manajemen konflik interpersonal, kesehatan mental mahasiswa, serta budaya etika dan kerukunan di kampus.
Kejadian ini harus menjadi cermin pahit bahwa moralitas di kampus sedang diuji. Kampus yang idealnya menjadi ruang dialog, diskusi, dan peradaban intelektual malah terseret ke dalam aksi anarkis yang memupus nilai-nilai kemanusiaan. Berdasarkan fakta, yang salah jelas pelakunya, tetapi langkah yang cepat dan tepat harus dijalankan agar kampus segera pulih.
Kita seluruhnya berduka. Kita bersimpati kepada korban yang menderita. Kita turut prihatin kepada keluarga yang gelisah. Namun, sebagai pemuda yang berpijak pada fakta dan nilai, kita tak boleh terjebak pada kepanikan atau tebar fitnah.
Peristiwa itu benar terjadi di lingkungan kampus.
Sangat tepat kampus tak bisa serta-merta disalahkan sepenuhnya.
Sesungguhnya akar masalah jauh lebih dalam daripada yang terjadi di lokasi kejadian.
1. Fakta, Bukan Spekulasi
Rekaman media dan laporan kepolisian menyatakan bahwa tragedi itu bermula dari konflik personal di luar ranah akademik, bukan pertikaian institusional kampus. Pelaku dan korban bukanlah “korban sistem pendidikan”, tetapi individu yang menempatkan hawa nafsu dan emosi di atas akal dan adab.
Data awal menunjukkan:
- Aksi terjadi di luar jam kuliah formal.
- Tidak ada bukti keterlibatan kelembagaan kampus dalam pemicu konflik.
- Kedua belah pihak sedang berada dalam konteks hubungan sosial yang telah melampaui batas-batas syariat dan adab pergaulan.
2. Menelusuri Akar : Syariat, Akal, dan Nafsu
Banyak di antara kita generasi muda yang terjebak dalam budaya yang meremehkan nilai-nilai kehormatan dan kontrol diri. Ketika hubungan yang seharusnya dijaga dalam batas syariat menjadi dekonstruksi emosional dan jasmani, maka konflik kecil bisa berubah menjadi tragedi besar.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji…”
(QS Al-Isrâ’: 32)
Larangan “tidak mendekati zina” bukan hanya tentang perbuatan fisik semata, tetapi tentang menjauh dari situasi yang memancing hawa nafsu, ketidakjelasan, dan kecenderungan destruktif. Ketika kita membiarkan interaksi tanpa adab, tanpa batas yang jelas, dan tanpa tanggung jawab moral, sama saja kita sedang mengundang gejolak yang lebih besar, termasuk konflik dan kekerasan yang seharusnya tak pernah terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan