Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 23:32 WIB

Kelenteng di Riau Sejarah dan Perannya dalam Tradisi Imlek

Kelenteng di Riau Sejarah dan Perannya dalam Tradisi ImlekKelenteng di Riau Sejarah dan Perannya dalam Tradisi Imlek (Ramadhan Kurniawan putra)

RIAU - Riau tidak hanya dikenal sebagai wilayah Melayu dengan kekayaan budaya dan sejarahnya, tetapi juga sebagai rumah bagi komunitas Tionghoa yang telah menetap sejak ratusan tahun lalu. 

Salah satu bukti nyata dari keberadaan dan peran komunitas ini adalah kelenteng, rumah ibadah yang hingga kini masih berdiri kokoh di berbagai daerah pesisir Riau. Kelenteng di Riau memiliki sejarah panjang yang berkelindan dengan kedatangan imigran Tionghoa sejak abad ke-19, khususnya melalui jalur perdagangan laut.

Keberadaan kelenteng bukan semata-mata sebagai tempat ibadah, melainkan juga menjadi simbol identitas, ketahanan budaya, dan pusat kehidupan sosial masyarakat Tionghoa. 

Baca juga: Kelenteng Bersejarah di Riau

Di tengah perubahan zaman, kelenteng tetap berfungsi sebagai ruang pelestarian nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Beberapa kelenteng di Riau tercatat sebagai bangunan ikonik yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Kelenteng Hoo Ann Kiong di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, misalnya, telah berusia lebih dari 150 tahun. Kelenteng ini menjadi saksi bisu perkembangan komunitas Tionghoa di wilayah pesisir timur Sumatra dan hingga kini masih aktif digunakan untuk kegiatan ibadah dan tradisi keagamaan.

Di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, berdiri Kelenteng Ing Hok Kiong yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah awal berdirinya kota tersebut. Bagansiapiapi dikenal sebagai kota pelabuhan yang berkembang pesat berkat aktivitas para perantau Tionghoa, dan kelenteng ini menjadi salah satu penanda penting perjalanan sejarah tersebut.

Baca juga: Imlek 2026 Jadi Magnet Wisata, Riau Tampilkan Harmoni Budaya dan Potensi Ekonomi Daerah

Sementara itu, Kelenteng Hok Ann Kiong di Bengkalis berperan sebagai pusat spiritual utama bagi umat Tionghoa setempat, terutama menjelang perayaan-perayaan besar seperti Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh. Kelenteng ini selalu ramai dikunjungi umat yang datang untuk berdoa dan mengikuti rangkaian ritual keagamaan.

Kelenteng Wie Leng Keng di Kecamatan Bantan juga termasuk salah satu kelenteng tertua di wilayah tersebut. Setiap perayaan Imlek, kelenteng ini kerap didatangi umat dari berbagai daerah di Riau, seperti Pekanbaru, Duri, hingga Dumai, menunjukkan kuatnya ikatan spiritual dan sosial antarumat lintas wilayah.

Baca juga: Perkembangan Tradisi Imlek dari Tahun ke Tahun

Dalam tradisi Tahun Baru Imlek atau Sincia, kelenteng memegang peran sentral. Umat datang untuk memanjatkan doa syukur atas rezeki yang diterima sepanjang tahun serta memohon keberkahan dan keselamatan di tahun yang baru. Ritual pembakaran dupa menjadi simbol harapan dan komunikasi spiritual kepada Tuhan dan para dewa.

Menjelang Imlek, pengurus kelenteng bersama jemaat juga melaksanakan ritual pembersihan atau cuci arca, yakni membersihkan bangunan kelenteng dan memandikan patung-patung dewa sebagai lambang penyucian diri dan awal baru. 

Selain itu, kelenteng berfungsi sebagai wadah sosial dan budaya, di mana pertunjukan barongsai, pemasangan lampion merah, hingga kembang api turut memeriahkan suasana dan dapat dinikmati masyarakat luas.

Tak jarang, kelenteng-kelenteng bersejarah di Riau juga menjadi destinasi wisata budaya dan religi, terutama saat libur Imlek. Arsitektur klasik, ornamen khas Tionghoa, serta atmosfer perayaan menjadikan kelenteng sebagai ruang perjumpaan lintas budaya yang memperkaya khazanah keberagaman di Riau.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERBARU

Kelenteng di Riau Sejarah dan Perannya dalam Tradisi Imlek

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!