Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 14 APRIL 2026 • 14:05 WIB

Bukan dari Arab, Ternyata Ini Asal-Usul Sejarah Gelar Haji di Indonesia Ciptaan Belanda

Bukan dari Arab, Ternyata Ini Asal-Usul Sejarah Gelar Haji di Indonesia Ciptaan BelandaIbadah haji (ramadhan kurniawan putra)

RIAU - Fenomena penyematan gelar Haji (H) dan Hajjah (Hj) di depan nama masyarakat Indonesia ternyata memiliki sejarah panjang yang tidak berasal dari tradisi Arab atau syariat Islam

Sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa praktik tersebut justru merupakan warisan kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang mulai diterapkan secara resmi sekitar tahun 1916.

Pemerintah kolonial saat itu secara aktif mencari cara untuk mengawasi pergerakan umat Islam, khususnya para jemaah yang baru pulang dari Tanah Suci. Mereka mencurigai para haji membawa semangat perlawanan, termasuk pengaruh paham pan-Islamisme yang dinilai dapat mengancam kekuasaan penjajah.

Penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje, menjadi tokoh kunci di balik kebijakan ini.

Ia mengusulkan agar pemerintah memberikan penandaan khusus berupa gelar “Haji” kepada individu yang telah menunaikan ibadah tersebut.

Melalui penandaan ini, pemerintah kolonial dapat dengan mudah mengidentifikasi dan memantau tokoh-tokoh yang dianggap memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat. 

Kolonial Belanda menilai para haji berpotensi menjadi penggerak perlawanan terhadap kekuasaan mereka.

Berbeda dengan anggapan masyarakat saat ini, penyematan gelar Haji pada masa itu bukanlah bentuk penghormatan terhadap ibadah seseorang. 

Pemerintah kolonial justru menjadikannya sebagai alat kontrol sosial dan politik.

Setiap individu yang menyandang gelar tersebut masuk dalam pengawasan ketat aparat kolonial, terutama jika mereka aktif dalam kegiatan keagamaan atau memiliki pengaruh di lingkungan sekitarnya.

Upaya pengawasan terhadap jemaah haji sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1859. Pemerintah kolonial mengeluarkan berbagai aturan yang mengatur keberangkatan hingga kepulangan jemaah dari Tanah Suci.

Seiring waktu, kebijakan tersebut terus diperketat hingga akhirnya pada tahun 1916, sistem penandaan gelar Haji diterapkan secara lebih sistematis sebagai bagian dari strategi pengawasan.

Menariknya, tradisi penggunaan gelar Haji di depan nama hanya berkembang di Indonesia. Negara-negara lain, termasuk Arab Saudi sebagai pusat ibadah haji, tidak menerapkan kebiasaan serupa dalam sistem penamaan masyarakatnya.

Kini, gelar Haji telah mengalami pergeseran makna. Masyarakat Indonesia memaknainya sebagai bentuk penghormatan atas keberhasilan seseorang menunaikan rukun Islam kelima, meskipun asal-usulnya berkaitan erat dengan strategi politik kolonial di masa lalu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERBARU

Bukan dari Arab, Ternyata Ini Asal-Usul Sejarah Gelar Haji di Indonesia Ciptaan Belanda

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!