Haji (Ramadhan Kurniawan putra)
RIAU - Masyarakat Riau terus menjaga ragam tradisi unik yang mengiringi keberangkatan ibadah haji. Tradisi ini tidak sekadar menjadi seremoni pelepasan, tetapi juga mengandung nilai spiritual, sosial, dan budaya yang kuat.
Setiap prosesi mencerminkan harapan, doa, serta kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu tradisi paling dikenal adalah tepuk tepung tawar. Prosesi ini biasanya dipimpin oleh tokoh adat atau orang yang dituakan dalam keluarga.
Mereka memercikkan air tepung tawar ke calon jemaah haji sebagai simbol penyucian diri dan perlindungan.
Baca juga: Terjawab! Segini Sebenarnya Lama Waktu Inti Ibadah Haji di Tanah Suci
Masyarakat meyakini ritual ini membawa keberkahan serta keselamatan selama perjalanan menuju Tanah Suci hingga kembali ke kampung halaman.
Selain itu, keluarga calon jemaah haji juga menggelar kenduri atau selamatan. Dalam kegiatan ini, keluarga mengundang sanak saudara, tetangga, dan sahabat untuk berkumpul.
Mereka bersama-sama membaca doa, tahlil, dan memohon kelancaran bagi jemaah yang akan berangkat. Hidangan khas Melayu Riau biasanya disajikan sebagai bentuk syukur sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga.
Baca juga: Tulisan Arab Labbaik Allahumma Labbaik: Bacaan Talbiyah Lengkap dan Artinya
Tradisi lain yang tak kalah menarik adalah arak-arakan keberangkatan. Warga setempat dengan penuh antusias mengantar calon jemaah hingga ke titik keberangkatan, seperti masjid atau lokasi pelepasan resmi.
Iringan kendaraan, lantunan doa, serta tangis haru keluarga menjadi pemandangan yang kerap terlihat. Suasana ini menunjukkan betapa pentingnya momen haji dalam kehidupan masyarakat.
Calon jemaah haji juga menjalani tradisi meminta maaf dan restu kepada keluarga, kerabat, dan tetangga. Mereka mendatangi satu per satu untuk bersilaturahmi, memohon doa, serta meminta keikhlasan jika selama ini memiliki kesalahan.
Tradisi ini mencerminkan nilai luhur masyarakat Riau yang menjunjung tinggi hubungan sosial dan kebersamaan.
Tidak hanya itu, sebagian masyarakat juga menjalankan tradisi pemberian tanda atau kenang-kenangan kepada keluarga yang ditinggalkan. Hal ini menjadi simbol ikatan emosional sekaligus harapan agar hubungan tetap terjaga selama jemaah menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Dalam beberapa daerah di Riau, tradisi haji juga diiringi dengan lantunan marhaban atau salawat. Kegiatan ini menambah nuansa religius dan khidmat, sekaligus menjadi bentuk ungkapan syukur atas kesempatan menunaikan rukun Islam kelima.
Rangkaian tradisi ini menunjukkan bahwa ibadah haji bagi masyarakat Riau tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan spiritual individu, tetapi juga sebagai peristiwa sosial yang melibatkan banyak orang. Setiap tahapan mencerminkan kekuatan nilai gotong royong, kebersamaan, serta rasa hormat terhadap adat dan agama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan