RIAU - Kekecewaan kini membekas dalam hati masyarakat Riau. Nama Gubernur Riau Abdul Wahid yang dulu dielu-elukan sebagai harapan baru, kini berubah menjadi simbol kerapuhan iman di puncak kekuasaan. Saat tangan yang dulu menandatangani kebijakan rakyat kini diborgol oleh KPK, rasa malu dan kecewa bercampur jadi satu di dada masyarakat yang selama ini menaruh kepercayaan.
Masyarakat Riau tidak marah semata karena Abdul Wahid ditangkap, tetapi karena iman seorang ayah, seorang pemimpin, ternyata goyah di tengah ujian jabatan. Ia yang semestinya menjaga marwah daerah dan menegakkan amanah rakyat, justru terjerat oleh kerakusan dan godaan harta. Di sinilah perumpamaan lama menemukan maknanya: belalang takkan pernah jadi elang, karena meski melompat tinggi, ia tetap tidak mampu terbang melintasi langit kebenaran.
Seorang pemimpin seharusnya menjadi panutan. Ia bukan hanya berdiri di atas podium dengan janji, tapi juga meneladankan kejujuran dalam tindakan. Namun kenyataannya, masyarakat kini hanya bisa menunduk malu. Seolah Riau kembali dipermalukan di mata bangsa bukan sekali, tapi berkali-kali. Setiap kali pemimpin digiring ke gedung KPK, kepercayaan rakyat kembali runtuh, sedikit demi sedikit.
Kita bisa memaklumi bahwa manusia tidak sempurna, tapi kesalahan seorang pemimpin bukanlah sekadar dosa pribadi. Itu adalah luka sosial yang menular ke seluruh rakyatnya. Karena pemimpin adalah wajah daerahnya. Bila wajah itu ternoda, maka nama daerah ikut tercoreng. Itulah sebabnya kekecewaan masyarakat Riau hari ini bukan sekadar kemarahan, tapi juga rasa kehilangan akan teladan.
Serangga takkan pernah jadi kura-kura. Ungkapan ini menggambarkan bahwa tabiat dan niat sejati seseorang tidak bisa disamarkan dengan gelar, jabatan, atau pakaian kebesaran. Meski seorang pemimpin dibalut jas mewah dan bicara tentang moral di depan publik, jika hatinya kosong dari iman, maka cepat atau lambat, kepalsuan itu akan retak. Dan kini, di hadapan hukum dan rakyat, kepalsuan itu telah pecah terbuka.
Masyarakat Riau menilai, ini bukan lagi soal individu, tapi soal sistem yang gagal menanamkan nilai iman dan integritas pada para pemimpinnya. Kekuasaan tanpa iman hanyalah jebakan. Jabatan tanpa kesadaran moral hanyalah kursi yang menunggu untuk menjadi saksi kejatuhan.
Seberapa tinggi pun seseorang mendaki, bila langkahnya salah arah, ia tetap akan jatuh ke lembah kehinaan.
Kini, saat Abdul Wahid mengenakan rompi oranye dan digiring masuk ke gedung KPK, sebagian rakyat mungkin menatap dengan marah, sebagian lagi dengan iba. Tapi yang paling dalam adalah rasa sedih — karena mereka tahu, pemimpin yang diharapkan menjadi ayah bagi rakyatnya, justru gagal menjaga iman di hadapan godaan dunia.
Dan seperti yang dikatakan pepatah tua, “Emas muda berkilau, tapi loyang tua tetap tampak pudar.” Betapa pun hebat seseorang di mata dunia, tanpa kejujuran dan iman, semuanya hanyalah kilau semu.
Abdul Wahid mungkin pernah bersinar sebagai pemimpin muda, tapi kini kilau itu redup karena tergores noda keserakahan.
Rakyat Riau berhak kecewa. Tapi dari kekecewaan ini, semoga lahir kesadaran baru. Bahwa negeri ini tak butuh pemimpin yang pandai berjanji, melainkan yang mampu menolak amplop. Tak perlu bersinar di televisi, asal mampu bersih di hati. Karena imanlah yang membedakan pemimpin sejati dan penguasa palsu.
Kita boleh memoles belalang menjadi tampak seperti elang, tapi ia takkan pernah bisa terbang tinggi. Kita boleh menyepuh loyang agar tampak seperti emas, tapi sinarnya takkan abadi. Begitulah kekuasaan tanpa iman — gemerlap sekejap, memalukan selamanya.
Masyarakat Riau kini belajar satu hal:
Pemimpin boleh jatuh, tapi marwah rakyat tak boleh ikut runtuh.Dan biarlah dari kekecewaan ini tumbuh harapan baru — bahwa Riau kelak akan dipimpin oleh mereka yang benar-benar terbang dengan sayap kejujuran, bukan melompat di atas rumput kepalsuan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan