RIAU - Puasa sunnah pada tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Ibadah ini merupakan bagian dari rangkaian amalan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah yang dikenal sebagai waktu istimewa dengan keutamaan besar di sisi Allah SWT.
Dalam berbagai riwayat, disebutkan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling dicintai Allah untuk melakukan amal saleh. Bahkan, keutamaan beribadah pada masa ini disebut melebihi jihad di jalan Allah, kecuali bagi mereka yang berangkat berjihad dengan jiwa dan harta lalu tidak kembali.
Hal ini menunjukkan betapa besarnya peluang pahala yang bisa diraih umat Islam di awal bulan Dzulhijjah.Salah satu amalan yang dianjurkan adalah puasa sunnah, khususnya pada tanggal 1 sampai 7 Dzulhijjah.
Puasa ini dapat dilakukan dengan niat yang dibaca di dalam hati, baik pada malam hari maupun pada pagi hari sebelum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Adapun bacaan niat puasa Dzulhijjah yang umum digunakan adalah sebagai berikut:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَال
Latin:
Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta'âlâ.
Artinya:“Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah hari ini karena Allah ta'âlâ.”
Selain itu, terdapat pula niat alternatif yang lebih ringkas dan tetap sah untuk diamalkan:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta'âlâ.
Artinya:“Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah ta'âlâ.”
Para ulama menjelaskan bahwa niat puasa sunnah tidak harus dilafalkan secara lisan, namun cukup dihadirkan dalam hati.
Bahkan, untuk puasa sunnah, niat masih diperbolehkan pada pagi hari selama seseorang belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.
Keutamaan puasa Dzulhijjah pada tanggal 1–7 sangat besar. Dalam sejumlah keterangan, puasa satu hari pada masa ini disebut memiliki pahala yang setara dengan puasa selama satu tahun. Selain itu, amalan ini juga menjadi salah satu sebab diampuninya dosa-dosa kecil yang pernah dilakukan.
Tidak hanya itu, puasa di awal Dzulhijjah juga merupakan bentuk meneladani Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat para sahabat, Rasulullah diketahui rutin melaksanakan puasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, termasuk di dalamnya tanggal 1 hingga 7.
Selain puasa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amal ibadah lainnya seperti dzikir, takbir, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan berbagai bentuk kebaikan.
Momentum ini menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas spiritual sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan berbagai keutamaan tersebut, puasa Dzulhijjah 1–7 tidak hanya menjadi ibadah sunnah biasa, tetapi juga bagian dari upaya meraih pahala berlipat ganda di hari-hari yang paling mulia. Umat Islam pun diharapkan dapat memanfaatkan momen ini sebaik mungkin sebagai ladang amal dan penghapus dosa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan