Minggu, 17 MEI 2026 • 16:12 WIB

Mengungkap 3 Penyebab Utama Terjadinya Kerusuhan Nasional Mei 1998

Author

Mengungkap 3 Penyebab Utama Terjadinya Kerusuhan Nasional Mei 1998 (Ramadhan Kurniawan putra)

RIAU - Kerusuhan nasional Mei 1998 menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia modern.Krisis ekonomi yang menghantam Asia, tuntutan reformasi politik, hingga tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti menjadi rangkaian faktor yang memicu amarah publik dan berujung pada jatuhnya Presiden Soeharto setelah berkuasa selama lebih dari tiga dekade.

Krisis finansial Asia yang mulai melanda pada 1997 membuat perekonomian Indonesia terpuruk.Nilai tukar rupiah anjlok drastis dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp16.000 per dolar Amerika Serikat. 

Kondisi itu menyebabkan banyak perusahaan nasional bangkrut akibat beban utang luar negeri yang membengkak.

Baca juga: Mengingat Kembali Tragedi Trisakti 12 Mei 1998: Sejarah dan Latar Belakangnya

Tak hanya itu, inflasi yang tinggi membuat harga kebutuhan pokok melonjak tajam. 

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di berbagai sektor dan menyebabkan angka pengangguran meningkat dalam waktu singkat.

Di tengah tekanan ekonomi, gelombang ketidakpuasan terhadap pemerintahan Orde Baru semakin membesar. 

Praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dinilai semakin merajalela. Publik juga menyoroti terpilihnya kembali Soeharto untuk masa jabatan ketujuh sebagai presiden.

Kebebasan pers dan ruang demokrasi yang dibatasi membuat gerakan mahasiswa di berbagai kota semakin masif. 

Demonstrasi menuntut reformasi total sistem pemerintahan berlangsung hampir setiap hari di sejumlah kampus dan pusat pemerintahan.

Puncak ketegangan terjadi pada 12 Mei 1998 ketika empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak saat melakukan aksi demonstrasi damai di Jakarta. 

Peristiwa tersebut memicu kemarahan masyarakat luas dan menjadi titik balik runtuhnya rezim Orde Baru.

Sehari setelah tragedi itu, kerusuhan massal pecah di Jakarta dan sejumlah daerah lain. Aksi penjarahan, pembakaran toko, hingga kekerasan terjadi pada 13 hingga 15 Mei 1998. 

Ribuan bangunan dilaporkan hangus terbakar dan situasi keamanan tidak terkendali.

Pada 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR RI. Ketua DPR/MPR saat itu, Harmoko, secara terbuka meminta Soeharto mengundurkan diri demi menjaga stabilitas nasional.

Tekanan politik terus menguat setelah sejumlah menteri menolak bergabung dalam kabinet baru yang direncanakan Soeharto. 

Hingga akhirnya, pada 21 Mei 1998, Soeharto resmi menyatakan mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia di Istana Merdeka.

Setelah pengunduran diri tersebut, Wakil Presiden B. J. Habibie langsung dilantik menjadi Presiden RI dan membuka era baru reformasi di Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU