RIAU - Pacu Jalur merupakan tradisi balap perahu khas Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, yang telah menjadi salah satu ikon budaya Indonesia.
Tradisi yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-17 ini awalnya digunakan sebagai sarana transportasi masyarakat di Sungai Batang Kuantan sebelum berkembang menjadi pesta rakyat yang kini dikenal hingga mancanegara.
Baca juga: Usai Bupati dan Sekda Tersandung Kasus KPK, Begini Profil Kabupaten Kuantan Singingi
Pada masa itu, Sungai Batang Kuantan menjadi jalur utama mobilitas masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian, berdagang, hingga menghubungkan kampung-kampung di sepanjang aliran sungai.
Untuk menunjang aktivitas tersebut, masyarakat membuat perahu panjang dari batang kayu utuh yang dikenal dengan sebutan jalur.
Seiring perkembangan zaman, fungsi jalur berubah menjadi bagian dari tradisi perlombaan yang digelar untuk memeriahkan berbagai perayaan keagamaan, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Raya Idulfitri.
Memasuki awal abad ke-20, Pacu Jalur semakin dikenal luas dan berkembang menjadi festival budaya tahunan yang terus dilestarikan sebagai identitas masyarakat Kuantan Singingi.
Pacu Jalur Jadi Simbol Budaya dan Gotong Royong
Pacu Jalur tidak hanya menampilkan perlombaan mendayung, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan, gotong royong, dan nilai-nilai budaya masyarakat Melayu Riau.
Satu jalur umumnya mampu menampung sekitar 40 hingga 60 orang pendayung. Pembuatan perahu dilakukan melalui proses panjang yang diawali dengan pencarian kayu pilihan di hutan, ritual adat, hingga proses peluncuran ke sungai.
Sebelum perlombaan dimulai, masyarakat biasanya menggelar tradisi malam mangaji sebagai bentuk doa bersama untuk memohon keselamatan serta kelancaran selama perlombaan berlangsung.
Baca juga: KPK Resmi Tetapkan Bupati Kuansing Suhardiman Amby Dan Sekda Zulkarnain Sebagai Tersangka
Saat perlombaan dimulai, suasana semakin meriah dengan tabuhan gong, sorak penonton yang memadati tepian sungai, serta teriakan komando "Kayuah… Kayuah!" dari para pendayung yang mendayung secara serempak menuju garis finis.
Festival Pacu Jalur Selalu Dinanti Wisatawan
Festival Pacu Jalur kini menjadi agenda wisata budaya terbesar di Provinsi Riau. Puncak perlombaan biasanya digelar di Arena Tepian Narosa, Teluk Kuantan, yang menjadi pusat penyelenggaraan event nasional setiap tahunnya.
Sebelum memasuki babak utama, perlombaan diawali dengan rangkaian Pacu Jalur Rayon di sejumlah kecamatan di Kabupaten Kuantan Singingi sebagai ajang seleksi menuju festival tingkat nasional.
Festival ini selalu menarik ribuan pengunjung, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, yang ingin menyaksikan langsung kemeriahan tradisi warisan leluhur tersebut.
Cara Menuju Lokasi Festival Pacu Jalur
Wisatawan dari luar daerah dapat memulai perjalanan melalui Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
Dari Pekanbaru, perjalanan dilanjutkan menuju Kota Teluk Kuantan dengan jarak sekitar 164 kilometer atau sekitar empat jam perjalanan melalui jalur darat.
Pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi, mobil sewa, maupun layanan travel dan bus yang melayani rute Pekanbaru–Teluk Kuantan.
Dengan sejarah panjang, nilai budaya yang kuat, serta kemeriahan yang selalu memikat ribuan penonton setiap tahunnya, Pacu Jalur terus menjadi kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi sekaligus salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Provinsi Riau.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: